Diberdayakan oleh Blogger.

NAMA               : DIMAS PRASETYOKO
NPM                  : 12110041
KELAS              : 1 KA 31
MATAKULIAH : ILMU SOSIAL DASAR
DOSEN              : ASRI WULAN

       ARTIKEL HUBUNGAN PENDUDUK, MASYARAKAT, DAN KEBUDAYAAN

          HUBUNGAN PENDUDUK, MASYARAKAT, DAN KEBUDAYAAN

        Penduduk, masyarakat dan kebudayaan mempunyai hubungan yang erat antara satu sama lainnya. Dimana penduduk adalah sekumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.

       Sedangkan masyarakat merupakan sekumpulan penduduk yang saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dan terikat oleh peraturan – peraturan yang berlaku di dalam wilayah tersebut. Masyarakat tersebutlah yang menciptakan dan melestarikan kebudayaan, baik yang mereka dapat dari nenek moyang mereka ataupun kebudayaan baru yang tumbuh dari dampak globalisasi & modernisasi.

      Oleh karena itu penduduk, masyarakat dan kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan sendiri berarti hasil karya manusia untuk melangsungkan ataupun melengkapi kebutuhan hidupnya yang kemudian menjadi sesuatu yang melekat dan menjadi ciri khas dari pada manusia ( masyarakat ) tersebut.

       Berbicara tentang kebudayaan. Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan kebudayaan, namun kebudayaan yang ada di Indonesia sering kali tidak diperhatikan & dilestarikan, maka tidak heran jika banyak negara sering mengklaim kebudayaan Indonesia sebagai kebudayaannya. Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang berbeda, kebudayaan tersebut semakin lama semakin beragam seiring dengan kemajuan jaman. Kebudaayan yang bersifat tradisional diciptakan dan dilestarikan secara turun temurun dari jaman nenek moyang, sedangkan kebudayaan yang bersifat ledih modern biasanya dampak dari seiring berubahnya jaman. Wayang adalah salah satu kebudayaan Indonesia yang sangat menarik perhatian Turis asing jika berkunjung ke Indonesia, namun sayang masyarakat asli Indonesia seringkali tidak menyukai & tidak melestarikan budaya tersebut. Seharusnya sebagi pemilik asli kebudayaan-kebudayaan Indonesia kita menjaga & melestarikan kebudayaan tersebut, jika tidak kebudayaan-kebudayaan tersebut akan sirna seiring berkembangnya jaman.

        Pada unsur-unsur kebudayaan sering terjadi ketidaksesuaian. Ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat akan menimbulkan masalah sosial, masalah sosial tersebut akan membahayakan kehidupan kelompok sosial jika terdapat perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada.

       Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :

1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.

NAMA                : DIMAS PRASETYOKO
NPM                   : 12110041
KELAS               : 1 KA 31
MATAKULIAH : ILMU SOSIAL DASAR
DOSEN              : ASRI WULAN

                                                        ARTIKEL MASYARAKAT

                                           MASYARAKAT DI KECAMATAN RAIJUA

            Berdasarkan data sensus penduduk tahun 1997 penduduk yang mendiami wilayah Kecamatan Raijua sebanyak 6.440 jiwa. Dengan kepadatan penduduk rata-rata sebanyak 174 jiwa per km2 dengan 99,99% penduduk asli.

            Mengenai asal-usul nenek moyang orang Raijua tak diketahui berasal dari mana. Menurut cerita rakyat atau mitologi orang Sabu dan Raijua datang dari seberang yang dalam bahasa sabu disebut “Dou Dakka Ti Darra Dahi, Ngati Kolo Rai Ahhu Rai Pana, Hu Udda Kolo Robo” (Orang yang muncul dari dalam laut. Datang dari tempat yang keramat). Orang pertama itu adalah Kika ‘Ga atau Hawu ‘Ga.

            Agama yang dianut oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Reijua mayoritas Kristen Protestan. Selain itu juga terdapat agama Katholik, Islam dan aliran kepercayaan “Jingi Tiu”. Toleransi yang amat tinggi antara umat beragama di kecamatan ini, menyebabkan pelaksanaan peribadatan selalu harmonis, karena itu tidak pernah terjadi kerusuhan antara umat beragama.

           Pada umumnya masyarakat Raijua hidup dari bertani, beternak dan nelayan, dan ada juga yang bergerak di bidang kerajinan, seperti menganyam tikar, membuat tembikar, dan tenun ikat. Ada juga yang menjadi tukang, baik tukang kayu, maupun tukan batu dan malah ada yang ahli dalam membuat perahu tradisional. Namun profesi yang terakhir ini sudah mulai berkurang karena penggunaan perahu tradisional telah terdesak oleh perahu motor.

            Pada umumnya mata pencaharian seperti yang dikatakan di atas tidak terpisah-pisah, sebab kebanyakan seorang petani itu juda mengerjakan pula pekerjaan yang lain. Pada musim hujan, petani beramai-ramai mengerjakan sawah dan ladangnya sesuai dengan kalender adat, di samping itu memelihara ternak dan mengusahakan kerajinan lainnya. Sedangkan pada saat pohon lontar mulai mengeluarkan mayangnya maka beramai-ramai pula mereka menyadap lontar dan mengolahnya menjadi gula.

           Cara bercocok tanam masih sangat tradisional dan ekstensif. Produksi hanyalah sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan bukan untuk tujuan komersil. Dari hasil bertani seperti itu, kebutuhan tidak terpenuhi, karena itu kelaparan selalu mengancam. Mata pencaharian penting yang dapat menolong dari ancaman kelaparan tersebut adalah menyadap lontar. Nira lontar diolah menjadi gula biasa disebut makanan utama. Selain itu juga dapat dijadikan cuka dan laru.

NAMA                : DIMAS PRASETYOKO
NPM                   : 12110041
KELAS               : 1 KA 31
MATAKULIAH : ILMU SOSIAL DASAR
DOSEN              : ASRI WULAN

                                                     ARTIKEL KEBUDAYAAN

                                             KEBUDAYAAN NGABEN DI BALI

      Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama sbg kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah.Menurut ajaran Hindu, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yg mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Nah ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.

       Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. Ada yg mengatakan ngaben dari kata beya yg artinya bekal, ada juga yg mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu), dll.

       Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sbg dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dgn menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yg digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta utk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yg melekat pada atma/roh.

       Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian.

       Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.

       Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.

       Prosesi ngaben dilakukan dgn berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sbg simbol-simbol seperti halnya ritual lain yg sering dilakukan umat Hindu Bali. Ngaben dilakukan untuk manusia yg meninggal dan masih ada jenazahnya, juga manusia meninggal yg tidak ada jenazahnya spt orang tewas terseret arus laut dan jenazah tdk diketemukan, kecelakaan pesawat yg jenazahnya sudah hangus terbakar, atau spt saat kasus bom Bali 1 dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan.

       Untuk prosesi ngaben yg jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar. Banyak tahap yg dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yg berbeda-beda. Ketika ada yg meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta utk menanyakan kapan ada hari baik utk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yg tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.

       Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sbg kelompok yg karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol2 menggunakan kain bergambar unsur2 penyucian roh.

       Pada hari H-nya, dilakukan prosesi ngaben di kuburan desa setempat. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah, yaitu tempat jenazah yg akan diusung ke kuburan. Wadah biasanya berbentuk padma sbg simbol rumah Tuhan. Sampai dikuburan, jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan, yaitu tempat membakar jenazah yg terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu.

       Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yg dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dgn api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yg melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dgn menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yg menggunakan angin.

       Umumnya proses pembakaran dari jenazah yg utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yg dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu utk bayi yg berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yg akan ada jika ada keluarganya meninggal.

       Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.

       Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.

NAMA                : DIMAS PRASETYOKO
NPM                   : 12110041
KELAS                : 1 KA 31
MATAKULIAH  : ILMU SOSIAL DASAR
DOSEN               : ASRI WULAN

                                                              ARTIKEL PENDUDUK

                                  PENDUDUK DAN PERKEMBANGAN KOTA (1900-1990)

           Salah satu persoalan rumit yang dihadapi kota-kota di Indonesia pada masa kini adalah persoalan penduduk, tanah dan lahan permukiman dan usaha. Paling tidak pada sekitar 1900-an isu tentang peledakan penduduk, kemiskinan, lapangan pekerjaan dan perumahan serta gejala urbanisasi mulai mengemuka di Jawa, sebagaimana tercermin dalam isu tentang Mindere Welvaart (Kemerosotan Kemakmuran) yang muncul pada masa itu. Isu-isu itu mengundang tuntutan perbaikan kebijakan dari pihak pemerintah. Kebijakan Politik Etis dengan trilogi programnya, yaitu pendidikan, emigrasi dan irigasi, dan kebijakan Perbaikan Kampung ( Kampung Verbeteringen ), penanggulangan kesehatan, pendirian Lumbung Desa, Bank Perkreditan Rakyat, dan lainnya yang dilancarkan pada sekitar dua dekade pertama awal abad ke-20 merupakan solusi penting terhadap persoalan yang mengemuka pada masa itu. Semuanya itu melatari perjalanan perkembangan kota-kota di Indonesia.

         Sementara itu, perkembangan kota-kota kolonial atau kota-kota Indies pada 1900-1940-an meningkat, sejalan dengan meningkatnya perkembangan perekonomian pada sektor-sektor tertentu, misalnya pertambangan, perkebunan, perdagangan dan perindustrian. Perkembangan kota yang terjadi pada masa itu, memiliki ciri khas yaitu menjadi basis kelahiran kaum urban baru, yang terdiri dari kaum terpelajar, birokrat atau priyayi, kaum profesional, kaum pengusaha dan pedagang dari kalangan Bumi Putra atau Pribumi, di luar kelas menengah yang berasal dari kalangan orang asing Timur, yaitu Orang Cina. Mereka itu pada hakekatnya menjadi embrio kelahiran “orang Indonesia” pada awal abad ke-20. Di kalangan mereka itulah sesungguhnya kesadaran akan bangsa dan identitas baru muncul, yaitu indentitas “orang Indonesia”. Selain kota Jakarta (Batavia), kota Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya berkembang menjadi kota besar yang berperan sebagai pusat modernisasi. Hal yang sama juga berlaku untuk kota Semarang, Medan dan Makasar.


         Pesatnya proses modernisasi, industrialisasi, komersialisasi dan edukasi yang terpusat di kota-kota besar telah menjadi faktor pengerak perubahan dan penarik arus urbanisasi dan migrasi penduduk di daerah Indonesia. Kota menjanjikan bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan atau di daerah lain di Indonesia. Selain itu, kemajemukan penduduk yang telah menjadi ciri kota-kota colonial, pada masa sesudah Perang Dunia II menjadi semakin berkembang dan lebih-lebih pada masa Orde Baru.

        Pluralitas penduduk perkotaan di Indonesia, pada hakekatnya menjadi faktor pendorong bagi berlangsungnya proses integrasi dan Indonesianisasi di Indonesia. Proses ini berlangsung tidak hanya melalui kegiatan dalam segi-segi admininistari dan politik pemerintahan dan perekonomian, tetapi juga melalui proses interaksi sosial dan dialog budaya.

        Kenaikan jumlah penduduk karena pesatnya angka kelahiran pada masa itu semakin menambah kesulitan pada kota-kota di Indonesia karena menimbulkan dampak-dampak yang akan semakin membuat persoalan di kota-kota tersebut, seperti kriminalitas, pengangguran, polusi dll.


*sumber : www.google.com

NAMA : DIMAS PRASETYOKO
NPM : 12110041
KELAS : 1 KA 31
MATA KULIAH : ILMU SOSIAL DASAR

ARTIKEL-ILMU SOSIAL DASAR

PANCASILA SEBAGAI DASAR KEHIDUPAN SOSIAL

Pancasila merupakan sarana atau wadah yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia karena Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia berisi cita-cita moral yang mengandung nilai-nilai dan norma-norma luhur yang sudah berakar dan membudaya dalam masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional, secara formal mendasari semua usaha dan kegiatan bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diterimanya pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila dijadikan landasan pokok bagi penyelenggaraan negara Indonesia. Pancasila berisi lima sila yang pada hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari pancasila tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, nilai persatuan indonesia, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalan permusyawaratan/perwakilan, dan nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Makna nilai-nilai dasar dalam pancasila :

a. Nilai ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.

b. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya.

c. Nilai persatuan indonesia mengandung makna merasa memiliki jiwa satu nasionalisme serta selalu menghargai perbedaan dan keanekagaraman demi satu tujuan bangsa Indonesia.

d. Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.

Nilai Sosial Pancasila menjadi Sumber Norma Etik Upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai pancasila adalah nilai moral. Oleh karena itu, nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan sosial semestinya berjalan sesuai dengan nilai-nilai dasar yang ada di dalam pancasila dan hendaknya kita mulai dari kehidupan pribadi kita sehari-hari agar nantinya tercipta kedamaian, ketentraman, serta kemajuan bangsa.

NAMA : DIMAS PRASETYOKO
NPM : 12110041
KELAS : 1 KA 31
MATA KULIAH : ILMU SOSIAL DASAR

ILMU SOSIAL DASAR-ARTIKEL ILMU SOSIAL DASAR

Pengaruh Tantangan Global terhadap Budaya Bangsa

Adanya unsur budaya asing yang masuk akibat globalisasi, sangat berpengaruh terhadap kebudayaan bangsa Indonesia. Berbagai bidang kehidupan yang lainpun tidak luput terpengaruh pula oleh globalisasi. Karena begitu cepat dan begitu kuat pengaruh yang ditimbulkan budaya asing menyebabkan terjadinya goncangan budaya pada masyarakat Indonesia, dimana masyarakat tidak mampu menahan berbagai pengaruh kebudayaan yang datang dari luar sehingga akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Setiap budaya yang masuk sebaiknya harus melalui proses penyerapan , agar budaya-budaya luar yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia tidak masuk dan mempengaruhi masayarakat Indonesia. Namun, seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak sekali budaya-budaya asing yang masuk dan mempengaruhi masyarakat Indonesia tanpa melalui proses penyerapan. Misalnya budaya seks bebas di kalangan remaja saat-saat ini. Budaya tersebut sangat jauh dari karakter dan kepribadian bangsa Indonesia yang begitu santun.

Tidak hanya masalah yang menyangkut perilaku, teknologi yang berkembang pada era globalisasipun sangat mempengaruhi karakter sosial. Misalnya, adanya komputer. Komputer dengan kemampuannya untuk menyimpan dan memperoleh kembali informasi dengan kecepatan dan ketepatannya. Hal ini pasti mempengaruhi pola perilaku masyarakat pada kehidupan sehari-hari maupun kondisi sosial diluar. Seperti, masyarakat menjadi malas, banyaknya pengangguran karena kurang dibutuhkannya tenaga manusia untuk mengerjakan sesuatu, adanya rasa ketergantungan pada alat-alat teknologi (komputer tsb), dan masih banyak sekali dampak-dampak yang timbul akibat teknologi yang berkembang pada era globalisasi.

Dari contoh-contoh kasus di atas, dapat dikatakan masalah-masalah tersebut timbul ketika kita melakukan hal-hal lebih cepat sebelum norma, keyakinan dan nilai-nilai dibuat untuk menghadapi segala konsekuensinya. Hal-hal semacam inilah yang menjadi tantangan global bagi budaya bangsa kita.

Namun tidak semua pengaruh globalisasi yang masuk akan berdampak negatif bagi kelangsungan hidup Bangsa. Semua tergantung proses masuknya pengaruh globalisasi tersebut & bagaimana setiap individu menyikapinya. Semakin banyaknya budaya asing yang masuk akan semakin memperkayakehidupan kebudayaan kita.




*sumber : buku “Manusia dan Masyarakat ” Pelajaran Sosiologi untuk SMA/MA, penerbit : Exact Ganeca

NAMA : DIMAS PRASETYOKO
NPM : 12110041
KELAS : 1 KA 31
MATA KULIAH : ILMU SOSIAL DASAR

ILMU SOSIAL DASAR-ARTIKEL ILMU SOSIAL DASAR

Pengaruh Tantangan Global terhadap Budaya Bangsa

Adanya unsur budaya asing yang masuk akibat globalisasi, sangat berpengaruh terhadap kebudayaan bangsa Indonesia. Berbagai bidang kehidupan yang lainpun tidak luput terpengaruh pula oleh globalisasi. Karena begitu cepat dan begitu kuat pengaruh yang ditimbulkan budaya asing menyebabkan terjadinya goncangan budaya pada masyarakat Indonesia, dimana masyarakat tidak mampu menahan berbagai pengaruh kebudayaan yang datang dari luar sehingga akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Setiap budaya yang masuk sebaiknya harus melalui proses penyerapan , agar budaya-budaya luar yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia tidak masuk dan mempengaruhi masayarakat Indonesia. Namun, seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak sekali budaya-budaya asing yang masuk dan mempengaruhi masyarakat Indonesia tanpa melalui proses penyerapan. Misalnya budaya seks bebas di kalangan remaja saat-saat ini. Budaya tersebut sangat jauh dari karakter bangsa Indonesia yang begitu santun.

Tidak hanya masalah yang menyangkut perilaku, teknologi yang berkembang pada era globalisasipun sangat mempengaruhi karakter sosial. Misalnya, adanya komputer. Komputer dengan kemampuannya untuk menyimpan dan memperoleh kembali informasi dengan kecepatan dan ketepatannya. Hal ini pasti mempengaruhi pola perilaku masyarakat pada kehidupan sehari-hari.
Dari contoh-contoh kasus di atas, dapat dikatakan masalah-masalah tersebut timbul ketika kita melakukan hal-hal lebih cepat sebelum norma, keyakinan dan nilai-nilai dibuat untuk menghadapi segala konsekuensinya. Hal-hal semacam inilah yang menjadi tantangan global bagi budaya bangsa kita.

Namun tidak semua pengaruh globalisasi yang masuk akan berdampak negatif bagi kelangsungan hidup Bangsa. Semua tergantung proses masuknya pengaruh globalisasi tersebut & bagaimana setiap individu menyikapinya.




*sumber : buku “Manusia dan Masyarakat ” Pelajaran Sosiologi untuk SMA/MA, penerbit : Exact Ganeca

Facebook Twitter RSS