Diberdayakan oleh Blogger.

Artikel Teknologi Sistem Informasi-CBIS

Nama : Dimas Prasetyoko
NPM : 12110041
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar





 ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI

                                       CBIS




      Computer Based Information System (CBIS) atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut juga Sistem
Informasi Berbasis Komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang
berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan. Beberapa istilah yang
terkait dengan CBIS yang akan dibahas pada bagian ini antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem
informasi dan “basis komputer” sebagai kata kuncinya.
Data
Banyak terdapat pengertian data yang dirangkum dari berbagai sumber. Bagian ini akan mengutip tiga
pengertian data dari sudut pandang yang berbeda-beda.

1. Menurut berbagai kamus bahasa Inggris-Indonesia, data diterjemahkan sebagai istilah yang berasal dari
kata “datum” yang berarti fakta atau bahan-bahan keterangan.
2. Dari sudut pandang bisnis, terdapat pengertian data bisnis sebagai berikut : “Business data is an
organization's description of things (resources) and events (transactions) that it faces”.
Jadi data, dalam hal ini disebut sebagai data bisnis, merupakan deskripsi organisasi tentang sesuatu
(resources) dan kejadian (transactions) yang terjadi.
3. Pengertian yang lain mengatakan bahwa “data is the description of things and events that we face”.
Data merupakan deskripsi dari sesuatu dan kejadian yang kita hadapi.
Jadi pada intinya, data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian dan merupakan
kesatuan nyata yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar suatu informasi.
Informasi
Berikut juga akan disampaikan pengertian informasi dari berbagai sumber.
1. Menurut Gordon B. Davis dalam bukunya Management Informations System : Conceptual
Foundations, Structures, and Development menyebut informasi sebagai data yang telah diolah
menjadi bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata, berupa nilai yang dapat dipahami di dalam
keputusan sekarang maupun masa depan.
2. Menurut Barry E. Cushing dalam buku Accounting Information System and Business Organization,
dikatakan bahwa informasi merupakan sesuatu yang menunjukkan hasil pengolahan data yang
diorganisasi dan berguna kepada orang yang menerimanya.
3. Menurut Robert N. Anthony dan John Dearden dalam buku Management Control Systems, menyebut
informasi sebagai suatu kenyataan, data, item yang menambah pengetahuan bagi penggunanya.
4. Menurut Stephen A. Moscove dan Mark G. Simkin dalam bukunya Accounting Information Systems :
Concepts and Practise mengatakan informasi sebagai kenyataan atau bentuk-bentuk yang berguna
yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis.
Dari keempat pengertian seperti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil
dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya yang menggambarkan
suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu
keputusan.

Sistem Informasi
Sistem Informasi merupakan sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya,
sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan
akurat sesuai dengan manajemen yang membutuhkannya.

Berbasis Komputer
Sistem Informasi “berbasis komputer” mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting
dalam sebuah sistem informasi. Secara teori, penerapan sebuah Sistem Informasi memang tidak
harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi pada prakteknya tidak mungkin
sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya
komputer. Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu
berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis
pada komputer.

*Sumber : www.google.com
Pendapat saya, Informasi berbasis komputer seperti CBIS harus lebih dikembangkan lagi untuk membantu pengambilan keputusan.

Artikel Teknologi Sistem Informasi-Analog dan Digital

Nama : Dimas Prasetyoko
NPM : 12110041
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar





       ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI

                                     Analog dan Digital


      Telepon yang semenjak awalnya, merupakan salah satu penerapan dari analog ini. Termasuk juga dalam hal penyiaran radio dan televisi.

      Analog merupakan proses pengiriman sinyal dalam bentuk gelombang. Misalnya ketika seseorang berkomunikasi dengan menggunakan telepon, maka suara yang dikirimkan melalui jaringan telepon tersebut dilewatkan melalui gelombang. Dan kemudian, ketika gelombang ini diterima, maka gelombang tersebutlah yang diterjemahkan kembali ke dalam bentuk suara, sehingga si penerima dapat mendengarkan apa yang disampaikan oleh pembicara lainnya dari komunikasi tersebut.

      Lalu bagaimana dengan digital? Digital merupakan proses pengiriman data dalam bentuk dua simbol, yaitu on dan off. Identik dengan stop kontak. Dengan menggunakan digital ini, informasi yang dilewatkan merupakan perpaduan denyutan listrik yang terdiri dari on dan off. Kombinasi inilah yang diterjemahkan menjadi data.

       Teknologi ini umumnya digunakan pada teknologi maju. Misalnya dari yang sangat sederhana adalah dalam hal penggunaan komputer, dan juga seterusnya untuk pengolahan data yang dilakukan oleh komputer.

       Kelebihan dari analog ini adalah kemampuannya untuk memproses pengiriman data dalam lalu lintas komunikasi yang padat. Sedangkan analog, digunakan untuk komunikasi yang lalulintasnya rendah. Sinyal dalam bentuk digital ini mampu mengirimkan data dengan cepat, dengan kapasitas yang lebih, dan memiliki tingkat error yang kecil, apabila dibandingkan dengan sinyal analog.

Sinyal Analog

     Sinyal analog adalah merupakan pemanfaatan gelombang elektromagnetik. Proses pengiriman suara, misalnya pada teknologi telepon, dilewatkan melalui gelombang elektromagnetik ini.

     Sinyal analog merupakan bentuk dari komunikasi elektronik yang merupakan proses pengiriman informasi pada gelombang elktromagnetik, dan bersifat variabel dan berkelanjutan. Satu komplit gelombang dimulai dari voltase nol kemudian menuju voltase tertinggi dan turun hingga voltase terendah dan kembali ke voltase nol. Kecepatan dari gelombang ini disebut dengan hertz (Hz) yang diukur dalam satuan detik. Misalnya dalam satu detik, gelombang dikirimkan sebanyak 10, maka disebut dengan 10 Hz. Contohnya sinyal gambar pada televisi, atau suara pada radio yang dikirimkan secara berkesinambungan. Pelayanan dengan menggunakan sinyal ini agak lambat dan gampang mendapat error dibandingkan dengan data dalam bentuk digital. Gelombang analog ini disebut baud. Baud adalah sinyal atau gelombang listrik analog. Satu gelombang analog sama dengan satu baud.

Sinyal Digital

     Merupakan hasil teknologi yang mengubah sinyal tersebut menjadi kombinasi ututan bilangan 0 dan 1 untuk proses informasi yang mudah, cepat dan akurat. Sinyal tersebut disebut sebuah bit.


                                        *sumber : www.google.com

     Pendapat saya tentang analog dan digital, semakin lama teknologi semakin maju seiring kemajuan jaman, penelitian-penelitian & penemuan-penemuan baru. Digital menurut saya lebih mudah dan lebih memiliki fungsi yang lebih dibandingkan analog dalam hal kecanggihan, kecepatan & ketepatan. Mungkin suatu saat nanti ada teknologi yang lebih canggih lagi dari pada teknologi digital.

Artikel Bencana Alam Indonesia 2010-Aktifnya Gunung Sinabung

Nama : Dimas Prasetyoko
NPM : 12110041
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar





       ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL BENCANA ALAM INDONESIA 2010

                                                 Aktifnya Gunung Sinabung

           Gunung Sinabung adalah sebuah gunung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung bersama Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter. Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600. Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 3 derajat 10 menit LU, 98 derajat 23 menit BT.

            Sejak 27 Agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 dini hari sekitar pukul 00.15 WIB (28 Agustus 2010, 17.15 UTC), gunung Sinabung mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi "Awas". Dua belas ribu warga disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut. Sebagian Kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung Sinabung. Bandar Udara Polonia di Kota Medan dilaporkan tidak mengalami gangguan perjalanan udara. Satu orang dilaporkan meninggal dunia karena gangguan pernafasan ketika mengungsi dari rumahnya.

         Pada tanggal 3 September, terjadi 2 letusan. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan pertama menyemburkan debu vuklkanis setinggi 3 kilometer. Letuasn kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa hingga 25 kilometer di sekitar gunung ini.

         Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter di udara.

*sumber : www.wikipedia.com

         Pendapat saya tentang bencana diatas, di Indonesia memang banyak sekali tumbuh Gunung-gunung, baik yang aktif ataupun tidak. Namun untuk memastikan kondisi gunung, terutama gunung yang aktif seharusnya dilakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan status gunung.
Solusi, mungkin solusi yang tepat jika terjadi gunung meletus seharusnya pertama penduduk harus dievakuasi terlebih dahulu disusul dengan harta benda mereka. Pos-pos pengungsian juga harus dibuka dibeberapa tempat untuk mengurangi tumpukan pengungsi & pemantauan terhadap gunung tersebut harus tetap dilakukan untuk menganalisis status Gunung tersebut.

Tsunami Mentawai, Sumatera Barat

Nama : Dimas Prasetyoko
NPM : 12110041
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar




  ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL BENCANA ALAM INDONESIA 2010

                                    Tsunami Mentawai Sumatera Barat

        Tsunami mentawai yang terjadi tanggal 26 oktober 2010 telah merenggut banyak nyawa dan juga korban, hingga kini proses pencarian korban tsunami mentawai masih terus dilangsungkan, Indonesia tengah berduka karena pada saat yang sama terjadi banyak bencana alam seperti Letusan merapi, tsunami mentawai dan juga banjir jakarta. Ratusan orang meninggal, warga kehilangan tempat tinggal, dan kini bahan makanan semakin menipis. Warga pun terpaksa harus berpikir dan mencari jalan keluar sendiri. Berita bencana di Indonesia kini juga tengah menjadi sorotan dunia, terbukti dengan banyaknya pemberitaan mengenai bencana di indonesia yang terjadi sekaligus seperti banjir wasior, letusan merapi dan juga tsunami mentawai.

         Korban tewas akibat gempa 7,2 SR yang berlanjut dengan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, sudah mencapai 311 orang. Jumlah korban diprediksi terus bertambah karena masih banyak lokasi yang belum bisa ditembus tim evakuasi. berikut adalah kabar terkini tentang bencana tsunami mentawai.

         Saat ini, tim evakuasi menggali kuburan massal untuk memakamkan para korban yang sudah teridentifikasi. Setidaknya, ada tiga titik kuburan massal untuk memakamkan ratusan jenazah. Sampai hari ini, Kamis 28 Oktober 2010, tim evakuasi yang sudah menyisir 15 dusun terus melakukan penguburan massal seiring ditemukannya jenazah demi jenazah. Sampai saat ini juga saya sendiri belum mendapatkan daftar nama korban tewas tsunami mentawai. begitu juga dengan tempat untuk mengirimkan bantuan korban tsunami mentawai yang diawali dengan gempa sekuat 7,2SR.

        Tiga titik kuburan massal itu yakni di Desa Munte Baru-Baru, Pagai Utara, ada sekitar 87 jenazah. Kemudian di Desa Mahosai, Pagai Utara, sekitar 35 jenazah dan di Kecamatan Malakopak, Pagai Selatan, ada sekitar 50 jenazah dikuburkan secara massal. Untuk mengikuti kabar perkembangan terbaru seputar tsunami mentawai anda bisa pantau terus di situs situs berita nasional dan juga televisi anda. atau bisa juga anda cari informasi mengenai kronologis tsunami mentawai.


*sumber : www.google.com


         Pendapat saya tentang bencana alam ini, kita seharusnya belajar dari bencana alam Tsunami sebelumnya di Aceh. Tsunami memang sulit diprediksi kapan akan terjadi, namun kita harus selalu waspada dikala terjadi gejala-gejala yang akan menunjukan Tsunami akan terjadi. Di tahun 2010 ini Indonesia memang benar-benar sedang berduka, begitu banyak bencana yang datang silih berganti, tidak ada yang bisa kita lakukan selain berlindung kepada-Nya dan terus berusaha melakukan yang terbaik. Berdoa terus untuk keselamatan Indonesia, Let’s Pray for Indonesia !

         Solusi yang dapat saya berikan tentang bencana alam tsunami di Mentawai ini adalah yang pertama pemerintah selaku pemegang kuasa dan pengatur daerah setempat harus lebih memperhatikan nasib para penduduk terutama yang berada disekitar pesisir pantai, alat pemantau Tsunami seharusnya difungsikan secara maksimal untuk mengetahui kapan Tsunami akan tiba. Solusi yang kedua penduduk harus waspada ketika mereka merasakan gempa, jika memang gempa dirasakan di sekitar daerah dekat laut penduduk diharapkan untuk segera menjauhi daerah-daerah yang dekat dengan laut tersebut dan menuju ke tempat-tempat yang jauh & tinggi, seperti bukit.

Letusan Gunung Merapi

Nama : Dimas Prasetyoko
NPM : 12110041
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar


    ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL BENCANA ALAM INDONESIA 2010

                               Letusan Gunung Merapi

          Letusan Merapi 2010 adalah rangkaian peristiwa gunung berapi yang terjadi di Merapi di Indonesia. Aktivitas seismik dimulai pada akhir September 2010, dan menyebabkan letusan gunung berapi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010, mengakibatkan sedikitnya 28 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan selaku juru kunci Gunung Merapi. Korban terus bertambah seiring dengan awan panas yang terus meluncur ke pemukiman para penduduk.

         Status Gunung Merapi dinaikkan dari Normal menjadi Waspada oleh BPPTK Yogyakarta pada tanggal 20 September 2010. Pada tanggal 21 Oktober 2010 Status berubah menjadi Siaga pada pukul 18.00 WIB. BPPTK Yogyakarta terus meningkatkan status Gunung Merapi hingga menjadi status Awas pada tanggal 25 Oktober 2010 tepatnya pada pukul 06.00 WIB. Sehari kemudian Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. Menurut laporan BPPTKA, letusan terjadi sekitar pukul 17.02 WIB. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan diiringi keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo. Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km. Pada tanggal 27-28 Oktober 2010 Gunung Merapi pun meletus. Dari sekian lama penelitian gunung teraktif di dunia ini pun meletus hingga Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.

        Luncuran awan panas mengarah ke sektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara. Para korban yang selamat segera diungsikan oleh para TNI dan ABRI ke tempat yang jauh lebih aman. BPPTK menentukan jarak aman Merapi pada radius 15 killo meter, namun diluar perkiraan jarak tersebut masih dapat dijangkau oleh luncuran awan panas yang biasa disebut penduduk sekitar wedus gembel. BPPTK pun menaikan jarak aman Merapi menjadi radius 20 killo meter. Korban pun terus bertambah, evakuasi korban terus dilakukan oleh tim evakuasi dibantu dengan TNI dan ABRI. Sampai pada tanggal 3 November 2010 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah total korban tewas Merapi untuk sementara mencapai 116 orang. Dengan rincian,di Sleman 104 orang, Magelang 7 orang, Klaten 2 orang, dan Boyolali 3 orang. Jumlah tersebut belum termasuk 4 relawan yang tewas saat melakukan evakuasi. Sementara korban luka tercatat 218 orang. Adapun jumlah total pengungsi mencapai 198 ribu orang, terdiri dari 56 ribu orang dari Sleman, 62 ribu orang dari Magelang, 40 ribu dari Klaten, dan 30 ribu dari Boyolali. Selain menyebabkan korban tewas dan luka-luka, ribuan rumah warga yang tinggal di keempat kabupaten tersebut juga luluh lantah. Begitu juga dengan lahan pertanian dan hewan ternaknya.

         Bencana alam ini mengundang simpati Presiden, Presiden beserta rombongan bahkan menyempatkan diri melakukan penyisiran di lokasi-lokasi yang terkena dampak letusan merapi, Presiden dibantu dengan beberapa Mentri juga melakukan rapat yang berhubungan dengan penanggulangan bencana letusan merapi tersebut.

*sumber : www.detiknews.com & www.wikipedia.com

          Pendapat saya tentang bencana letusan gunung merapi, ya memang sudah tidak dapat dikatakan apa-apa bahwa merapi akhirnya meletus dengan letusan yang begitu dahsyat. Juru kunci Merapi Mbah Marijan pun telah tewas, banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dari beliau terutama tentang arti dari sebuah kesetiaan & tanggung jawab yang seharusnya dimiliki oleh para petinggi di Negara kita ini. Merapi telah meletus tak ada yang dapat dilakukan selain berlingdung kepada Tuhan YME serta terus berusaha berjuang untuk hidup ditengah bahaya letusan. Saling membantu sesama untuk meringankan penderitaan sodara-sodara kita yang terkena bencana letusan ini. Sisihkan lengan baju untuk mengangkat sodara kita dari rasa penderitaan.

          Solusi yang dapat saya berikan adalah, Tim pemantau Gunung Merapi seharusnya lebih peka terhadap aktifitas Gunung Merapi yang semakin lama, semakin menunjukan aktifitasnya. Evakuasi penduduk harus segera dilakukan sebelum Gunung benar-benar meletus untuk meminimalisir banyaknya korban yang jatuh. Penyisiran di lokasi-lokasi terutama yang berdekatan dengan Merapi juga harus dilakukan untuk memastikan lokasi-lokasi tersebut telah kosong dari penduduk.

Longsor Tenjolaya

Nama : Dimas Prasetyoko
NPM : 12110041
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar



   ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL BENCANA ALAM INDONESIA 2010

                                     Longsor Tenjolaya

        Longsor Tenjolaya terjadi pada 23 Februari 2010 di Tenjolaya, Pasirjambu, Bandung. Lokasi longsor meliputi 3 RT dari 15 RT di RW 18. Longsor ini menimbun 50 rumah bedeng milik buruh, longsor juga menimbun satu pabrik pengolahan teh, satu gedung olahraga, satu koperasi karyawan, satu puskesmas pembantu, dan satu masjid.

        Jumlah korban jiwa akibat longsor ini berjumlah 45 orang, terdiri dari 12 orang laki-laki, 21 orang perempuan, dan 12 orang anak-anak berdasarkan dari data pengaduan dari masyarakat yang kehilangan anggota keluarga kepada posko penanganan bencana longsor. Para korban longsor Tenjolaya yang selamat mengungsi ke berbagai tempat, diantaranya di Desa Sugihmukti, Pasirjambu, Cisondari, dan Tenjolaya di Kecamatan Pasirjambu, dan juga di Desa Rancabali dan Rawabogo Kecamatan Ciwidey. Selain korban tewas dan selamat, sebanyak 70 buruh perkebunan teh diperkirakan hilang tertimbun tanah.

       Pencarian korban longsor akan dilakukan hingga jam 12.00 pada 1 Maret 2010, apabila tidak ditemukan kembali korban longsor, maka lokasi longsor akan dijadikan kuburan massal. Proses pencarian dilakukan tim evakuasi dibantu dengan warga sekitar.

*sumber : www.wikipedia.com

      Pendapat saya tentang bencana longsor tersebut, bagi saya bencana longsor seperti itu sering terjadi apalagi disaat tingkat intensitas curah hujan begitu tinggi. Longsor kapan saja bisa menerpa tanpa adanya antisipasi dari penduduk di pemukiman setempat, namun seharusnya warga setempat belajar dari kejadian-kejadian yang telah terjadi sebelumnya ditempat lain agar dapat meminimalisir bahaya bencana tanah longsor seperti di Tenjolaya.

      Solusi yang tepat menurut saya, penduduk setempat khususnya yang bertempat tinggal dibawah tanah yang curam seharusnya lebih waspada akan terjadinya bencana tanah longsor dan untuk lebih aman disarankan untuk pindah rumah yang jauh dari bahaya tanah longsor. Pemerintah juga dituntut untuk segera menangani masalah tanah longsor seperti ini, agar tidak terulang di tahun-tahun berikutnya.

Banjir Bandang Wasior

Nama : Dimas Prasetyoko
NPM : 12110041
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

 ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL BENCANA ALAM INDONESIA 2010

                                               Banjir Bandang Wasior

         Banjir Wasior 2010 adalah bencana banjir bandang yang terjadi pada 4 Oktober 2010 di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Banjir bandang terjadi karena kerusakan hutan di Wasior sekitar 30-40 persen hutan di kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi dan kawasan Taman Nasional Laut Teruk Cenderawasih mengalami alih fungsi, sehingga hujan tiada henti yang terjadi sejak Sabtu, 2 Oktober 2010 hingga Minggu, 3 Oktober 2010 menyebabkan Kali Angris dan Kali Kiot meluap dan membawa bencana bagi Wasior.

         Kerusakan hutan yang terjadi disebabkan karena banyaknya aktifitas penebangan kayu sejak 1990-an, jadi sudah sekitar 20 tahun terjadi aktifitas penebangan di Wasior. Penebangan hutan yang terjadi dilakukan oleh beberapa perusahaan kayu terbesar di Papua, ijin yang diberikan pemerintah disalahgunakan. Perusahaan-perusahaan tersebut melakukan penebangan tanpa batas dan tanpa memperhatikan dampak pada lingkungan sekitar. Aktivitas penebangan hutan berjalan tanpa perlawanan masyarakat karena perusahaan-perusahaan itu sudah mampu membayar ganti rugi kepada warga bahkan membangun kongsi dagang dari hulu sampai hilir. Disamping perusahaan-perusahaan besar, banyak oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan penebangan hutan besar-besaran secara ilegal.

        Banjir yang terjadi menyebabkan banyak infrastruktur di Wasior hancur termasuk lapangan udara di Wasior, sementara kerusakan juga menimpa rumah warga, rumah sakit, dan jembatan. Kerusakan yang terjadi disebabkan banjir yang terjadi membawa serta batu-batuan besar, batang-batang pohon, lumpur. Bencana banjir bandang yang terjadi juga mengganggu hubungan komunikasi, jaringan listrik terputus dan aktifitas masyarakat lumpuh.

       Banjir bandang juga menyebabkan 110 orang tewas dan 450 orang masih dinyatakan hilang. Sementara sebagian korban luka-luka dibawa ke Manokwari dan Nabire. Sementara sebagian korban luka lainnya dan warga yang selamat ditampung di tempat-tempat pengungsian. Akibat banjir yang terjadi yang merusak rumah warga dan infrastruktur banyak warga yang selamat memutuskan mengungsi ke Manokwari dengan menggunakan kapal laut.

*sumber : koran kompas 8-okt-2010 & www.google.com

        Pendapat saya tentang Banjir Bandang di Wasior, Semua musibah memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan YME, namun sebagai manusia kita diwajibkan untuk berusaha melakukan yang terbaik guna mencegah musibah itu datang. Sebagai makhluk sosial kita perlu memperhatikan hak-hak orang lain & jangan mementingkan kepentingan pribadi. Lingkungan tempat tinggal perlu diperhatikan untuk mecegah bahaya bencana alam.

        Solusi yang harus dilakukan untuk mencegah bencana banjir bandang menurut saya, pemerintah sebagai pemegang kendali seharusnya mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan penebangan hutan, pemerintah juga dituntut untuk melakukan penanaman kembali hutan-hutan yang telah gundul akibat penebangan & pemerintahpun perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang dampak dari penebangan hutan secara liar. Selain pemerintah, masayarakat sepantasnya ikut serta dalam melakukan pencegahan penebangan hutan secara liar agar tidak menimbulkan bencana alam seperti banjir bandang di Wasior tersebut.

Facebook Twitter RSS